PERTAMA DI LEWOTANAH
MEDIA ONLINE PERTAMA DI LEWOTANAH.

Selasa, 16 September 2014

Ijin Gubernur Tak Diperoleh, Polres Lembata Bersikukuh Lidik Dua Anggota DPRD

Lembata-Online, Lewoleba 16/09/2014

Beriona Philipus
Kepolisian Resort Lembata bersikukuh untuk memanggil dan memeriksa Bediona Philipus dan Yakobus Liwa, dua anggota DPRD Lembata yang tersangkut kasus dugaan pemalsuan dokumen dan penghinaan terhadap Bupati Lembata. Padahal, banyak kalangan menilai, dua kasus ini merupakan bentuk kriminalisasi atas tugas dan fungsi  yang sedang dijalankan anggota DPRD Lembata. 
Seperti yabg dialami Bediona Philipus dan Fransiskus Limawai Koban yang dilaporkan Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, karena dituding memalsukan dokumen rekomendasi sidang paripurna DPRD Lembata tentang usulan Pemakzulan Bupati Lembata kepada Mahkamah Agung, sementara Yakobus  Liwa, dipolisikan Bupati Sunur karena menyebut “Bupati pembohong” dalam forum sidang paripurna DPRD.  
Kapolres Lembata, AKBP Wresni  H.S Nugroho melalui Kasatreskrim Polres Lembata, Iptu Aba Meang kepada wartawan, Selasa (16/9/2014) mengatakan pihaknya segera mengeluarkan surat panggilan kepada Bediona Philipus dan Yakobus Liwa atas laporan Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, meskipun Gubernur NTT, Frans Leburaya tidak merespon surat ijin pemeriksaan anggota DPRD dari Polda NTT tanggal 22 Juli 2014.  Kedua anggota DPRD tersebut telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka, usai dilaporkan Bupati Sunur. Menurut pihak polisi, proses lanjutan penyidikan kedua anggota DPRD itu terhalang syarat UU MD3 yakni surat ijin kepada gubernur NTT. 
“surat ijin memeriksa anggota DPRD yang dilayangkan Polda NTT tanggal 22 Juli 2014 tidak mendapat tanggapan dari Gubernur NTT, Frans Leburaya, namun Kepolisian Daerah NTT melalui surat Nomor B/300/II/Direskrimum/2014, tanggal 9 September 2014, memerintahkan Kepolisian Resort Lembata untuk memanggil dan melanjutkan penyidikan terhadap dua anggota DPRD Lembata, Bediona Philipus dan Yakobus Liwa. Yakobus Liwa dikenakan pasal 207, 315 dan 316 KUHP sementara Bediona Philipus dikenakan pasal 263 ayat 1 KUHP tentang pemalsuan dokumen,” ujar Kasatreskrim Aba Meang.
Sementara itu, Bediona Philipus dan Yakobus Liwa mengadukan masalah ini hingga ke Mabes Polri,  Kompolnas,  LPSK, induk partai PDIP dan PKPI di Jakarta (Hos).

Ini Dia Kilas Balik Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen Dua Anggota DPRD Lembata

Lembata-Online, Lewoleba 16/09/2014

Kasus pemalsuan dokumen Pemakzulan Bupati Lembata, bermula saat DPRD setempat membentuk Panitia Kusus. Salah satu Pansus yang dibentuk DPRD Lembata kala itu, diketuai Simon G. Krova, dengan anggota Bediona Philipus, Fransiskus Limawai dan Sulaiman Syarif, bertugas mendalami dugaan pelanggaran Undang-undang yang diduga dilakukan Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur. 
Bediona Philipus Korban Kriminalisasi Hukum
 
Setelah mengumpulkan fakta, Pansus dugaan pelanggaran perundang-undangan ini menemukan indikasi Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur melanggar perundang-undangan yang berlaku, misalnya, Bupati diduga terlibat dalam proyek pengadaan lampu jalan, Bupati Sunur diduga memeras kontraktor, Bupati yang menghadiri sidang paripurna DPRD,  hingga frekwensi perjalanan Dinas sang Bupati yang tinggi.
Pansus ini pun mengusulkan pemberhentian Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur untuk dibahas di sidang Paripurna DPRD Lembata. 23 dari 25 anggota DPRD Lembata yang hadir menyetujui usulan pemakzulan diajukan kepada Mahkamah Agung di Jakarta. Upaya membawa berkas usulan pemecatan pertama terhalang dan dibawa pulang ke Lembata, sebab, Bediona Philipus, Fransiskus Limawai, Yosep Meran Lagaor dan sejumlah anggota DPRD lainnya berbeda pendapat dengan pegawai Sekretariat DPRD.
Tidak berhenti disitu, upaya tim Pansus pemakzulan itupun akhirnya berhasil membawa kembali dokumen Pansus ini ke Jakarta. Dokumen pansus, hasil sidang paripurna DPRD Lembata  tentang pemakzulan Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, akhirnya berhasil diserahkan kepada Mahkamah Agung. Alih-alih dipanggil MA untuk klarifikasi laporannya, kini justru dua anggota DPRD Lembata dilaporkan ke Polisi karena diduga memalsukan dokumen Pansus pemakzulan itu karena dilaporkan oleh Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur sendiri. 
 
“kami merubah  redaksional itu tetapi tidak merubah substansi usulan DPRD Lembata untuk memecat Bupati Sunur. Misalnya sebelumnya hanya ditulis Bupati/Kepala Daerah, kami rubah menjadi Bupati Eliazer yentji Sunur. Intinya, kami hanya memperjelas tujuan usulan DPRD Lembata kepada MA. Kenapa dokumen milik DPRD, yang lapor Bupati dan Polisi juga mau saja urus masalah ini,” ujar Bediona Philipus kepada wartawan. 
 
Publik Lembatapun dibuat bingung dengan drama kasus yang unik ini. Proses hukum lanjutan dari kasus inipun tergolong unik, jika tidak mau dibilang aneh. Polisi Lembata telah menetapkan 2 tersangka yakni, Bediona Philipus dan Fransiskus Limawai dalam kasus ini. Namun dalam surat perintah yang ditandatangani Dikrimum Polda NTT, Kombes Pol Sam Yulianus Kawengian bernomor B/300/II/Dirkrimum/2014, 9 September 2014, pasca Gubernur mengabaikan permohonan pemeriksaan kedua anggota DPRD Lembata, hanya muncul satu nama, yakni Bediona Philipus yang diperintahkan untuk diperiksa oleh Polisi Lembata.  Sementara Fransiskus Limawai, tidak disertakan dalam surat perintah itu. 
 
Namun Kasatreskrim, Iptu Aba Meang mengaku ada kesalahan teknis sehingga nama Fransiskus Limawai tidak turut diperiksa dalam kasus laporan Bupati Sunur tentang dugaan pemalsuan Dokumen.
“itu bagian dirkrimum Polda NTT yang ketik jadi kemungkinan mereka salah ketik saja. Harusnya juga ada nama Fransiskus Limawai. Kita tetap buatkan surat panggiilan untuk mereka secepat mungkin,” ujar kasatreskrim Aba Meang .(HOS).

Dinas Koperindag Sita 100 Kg Barang Kadaluarsa

Lembata-Online, Lewoleba 16/9/2014

Pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Seksi Perlindungan Konsumen dan kemetrologian, Dinas Koperasi, perindustian dan perdagangan, menyita 100 kg makanan dan minuman siap saji yang disita dari berbagai Toko dan kios di seluruh wilayah Kabupaten Lembata, sepekan belakangan ini. Penyitaan barang kadaluarsa tersebut terjaring dalam operasi pengawasan barang dan jasa yang dilakukan Dinas tersebut sejak pekan lalu di 9 Kecamatan di Lembata. 
Ilustrasi lembata-online.
Penjualan sejumlah bahan pangan siap saji  seperti snack untuk anak-anak, susu dalam kemasan, mi instant, minyak goreng yang kadaluarsa, masih marak terjadi di Lembata. Maraknya penjualan barang kadaluarsa ini semata-mata untuk mengejar keuntungan para pengusaha, tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang diakibatkan produk pangan tersebut kepada konsumen. Pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Dinas Koperasi Industi dan perdagangan kabupaten Lembata,  terus melakukan pengawasan langsung ke lapangan guna mengurangi meluasnya peredaran barang kadaluarsa itu. 
“kami sudah bentuk tim yang terdiri dari PPNS, Bagian pengawasan barang dan jasa Diskoperindag, polisi sampai wartawan untuk melaksanakan tugas pengawasan terhadap barang terutama pangan siap saji baik di toko grosir maupun pengecer yang tersebar di kios-kios di seluruh wilayah Lembata. Pengawasan ini tidak semata-mata untuk melindungi konsumen dari bahaya mengkonsumsi bahan kadaluarsa, tetapi lebih dari itu, untuk memotivasi pengusaha besar maupun kecil yang ada di Lembata guna memajukan usahanya sendiri, dengan menjual produk yang bermutu dan layak konsumsi,” ujar Kepala Seksi Perlindungan konsumen dan Kemetrologian sekaligus PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil-Perlindungan Konsumen, Charles Atawolo, Selasa (16/9/2014). 

Suasana pengawasan barang di Kios-kiios dan Toko di Lembata
Dikatakan, UU nomor 8 tahun 1999 menyebutkan, semua produk makanan dan minuman dalam kemasan wajib mencantumkan tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa, agar sebelum membeli, konsumen mengetahui barang tersebut masih layak konsumsi atau tidak. Atawolo mengaku, pihaknya telah menyita sedikitnya 100 kg barang kadaluarsa yang diambil dari berbagai toko maupun kios yang tersebar di 9 kecamatan dalam operasi pengawasan barang dan jasa, yang dilakukan s ejak pekan lalu. 

“Kita sudah menyita 100 kg makanan dan minuman siap saji sejak operasi pengawasan digelar pekan lalu ke 9 Kecamatan di Lembata. Selain melindungi konsumen, sebagai pemerintah, pengawasan barang beredar ini juga membantu membersihkan barang yang tidak laik konsumsi di tempat-tempat usaha para pengusaha. Jika semua produk terutama makanan dan minuman yang diperdagangkan itu bebas dari kadaluarsa dan laik konsumsi, maka konsumen pasti percaya pada pengusaha. Secara tidak langsung membantu memajukan usaha, sebab kami akan merekomendasikan kepada masyarakat bahwa, produk yang di jual di toko dan kios tertentu layak dikonsumsi,” ujarKepala Seksi Perlindungan konsumen dan Kemetrologian sekaligus PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil-Perlindungan Konsumen, Charles Atawolo.
Sementara itu, warga di wilayah Kecamatan di Lembata menyambut baik operasi pengawasan barang beredar yang digelar.

“kami ini jauh dari pusat kota Lewoleba, sehingga apa yang dilakukan Diskoperindag ini kami dukung. Kita tidak pernah tahu dammpak mengkonsumsi barang kadaluarsa. Kadang kita beli, tidak perhatikan masa berlakunya,” ujar Regina Mura, warga Desa Dua Wutun, Kecamatan Nagawutun.
Sementara itu pengusaha kios yang menjadi sasaran operasi pengawasan barang beredar mengaku lalai. Para pengusaha kios dan toko yang didatangi, tidak menolak jika barang dagangannya disita untuk dimusnahkan jika diketahui sudah kadaluarsa.

Dinas Koperindag Kabupaten Lembata, terus intensif melakukan operasi pengawasan barang beredar. Kondisi Lembata yang jauh dari pusat produksi bahan pangan dan minuman dalam kemasan, menyebabkan wilayah ini sering dimasuki barang kadaluarsa. (PT).  

Senin, 15 September 2014

Keluarga EC Bingung, Polisi Lembata Lepas Tersangka Human Traficking


 
Lewoleba, Lembata Online 16/9/2014
 
Keluarga korban Human trafficking, menyayangkan dilepasnya, Bregi, 22, yang telah “menjual” EC, 17, siswi kelas 2 SMA Negeri Lewoleba yang masih aktif sekolah kepada Sumira, Mucikari pada sebuah tempat hiburan malam di kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.
 
Keluarga menuntut Polisi untuk segera mencari dan meringkus Bregi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya “menjual” siswi kelas 2 SMA untuk dipekerjakan sebagai ladies di tempat hiburan malam di kota Maumere. EC mengaku, setelah dijual pecan lalu, dirinya telah melayani 5 orang pria hidung belang.
 
“saya dan keluarga meminta bantuan Polisi sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menangkap Bregi, 22, tukang ojek yang telah “menjual” anak saya kepada Sumira (mucikari pada Pub Mitra-Maumere) dengan harga 200 ribu rupiah tetapi Polisi bilang belum cukup bukti untuk menjerat dia. Kami bingung, kenapa pa Polisi tidak bisa peka dengan permintaan kami. Dalam benak kami setelah Bregi kami bawa ke polisi, polisi segera menyelidiki keberadaan anak kami itu dan tahan dia, kenapa dia dilepas,” ujar SK (Skolastika Kuma-red, mohon disamarkan), ibunda EC kepada Media Indonesia, Jumad 12/9/2014, terbata-bata.
 
SK menjelaskan, setelah polisi melepaskan Bregi, yang oleh keluarga diketahui telah menjual EC, Siswi kelas 2 SMA kepada Sumira, sang mucikari, pihaknya akhirnya meminta bantuan TNI dan aktivis Aldiras untuk mencari tahu keberadaan EC.
 
“Dengan cara menyamar dan menggunakan perempuan lain yang mengenal Sumira (sang Mucikari), kami akhirnya dapat meringkus Sumira dan Ovin, dua orang yang diduga kuat terlibat dalam kasus human trafficking ini. Apalagi EC adalah anak dibawah umur. Akan tetapi sangat kami sayangkan, Bregi, 22, tukang ojek yang “menjual” EC dilepas polisi dan saat ini buron. Jika dikaitkan dengan barang bukti dan saksi, dalam kasus ini kami sudah lengkapi semua, tinggal polisi menetapkan pasal penjualan anak dibawah umur, kami berharap kasus ini bisa segera diproses hokum,” ujar Elias Making, aktivis Aliansi Peduli keadilan dan kebenaran anti kekerasan (Aldiras), Jumad (12/9/2014).
 
Sementara itu, Sumira, sang Mucikari mengaku dijebak oleh intel TNI dan keluarga EC. Sumira mengaku sedang mencari perempuan yang mau bekerja sebagai wanita penghibur di tempatnya bekerja di kota Maumere.
 
“saya kesini untuk jemput lagi perempuan sebab ada teman saya juga yang menelepon bahwa masih ada perempuan yang mau kerja sebagai ladies di Pub dan karaoke. Biasanya kami temani tamu untuk minum. Urusan selanjutnya tergantiung tamu dan ladies. Saya memang bayar kepada Bregi uang sebanyak 200 ribu rupiah sebagai ganti biaya yang telah dikeluarkan Bregi. Setelah memberikan uang itu, saya jemput EC dan dipekerjakan sebagai ladies “baru” di Pub Mitra, di Kota Maumere,” ujar Sumira kepada Media Indonesia, Jumad (12/9/2014).
 
Sementara itu, EC, korban human trafficking mengaku tidak tahu kalau dirinya dipekerjakan sebagai Ladies atau wanita penghibur di Pub Mitra Maumere. EC mengaku sejak Jumad (5/9/2014) saat dirinya bekerja di Pub Mitra Maumere, dirinya dipaksa melayani 5 pria hidung belang.
 
“awalnya saya kira akan kerja di Toko, tau-tau saya dipekerjakan sebagai ladies dan telah melayani 5 orang pria hidung belang dengan tarif 300 ribu rupiah,” ujar EC singkat. (Hosea).

Aktivitas Warga Wulandoni Belum Normal

Kendati telah berlalu sejak sebulan silam, aktivitas ekonomi warga Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandoni, NTT belum berlangsung normal. Selain kesulitan air bersih, Desa berpenduduk lebih dari 2000 jiwa itu kesulitan pangan, pendidikan warganya pun masih terganggu. Warga Desa Pantai Harapan pun meminta pemerintah Kabupaten Lembata, memfasilitasi pembicaraan damai dengan warga Desa Wulandoni. Sementara Warga Desa Wulandoni meminta Pemerintah kabupaten segera memfasiliasi pembicaraan tentang tapal batas kedua desa berseteru itu.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan pemerintah Desa Pantai Harapan serta tokoh masyarakat setempat dengan Asisten I Setda Lembata, Niko Paji Liarian serta Ketua Sementara DPRD Lembata, Ferdinandus Koda, Rabu (10/9/2014). Warga desa yang menyerang warga Desa Wulandoni tersebut menyampaikan keprihatinan atas kejadian Minggu 17 Agustus 2014 silam dan menyampaikan kepada pemerintah tentang keprihatinan yang hingga saat ini masih terjadi di Desanya.

“Kami kesulitan air bersih pa, karena pipa yang dipasang dari gunung terus-menerus jadi sasaran pengrusakan. Berkali-kali kami minta Polisi mengawal warga kami yang akan memperbaiki pipa yang patah itu pasca kerusuhan tetapi air belum lancar. Untuk kebutuhasn air bersih, kami pakai perigi yang ada di tepi pantai,” ujar Kepala Desa Pantai Harapan, Muhamad Sangaji.

Menurut Sangaji, kesulitan ekonomi warga desa Pantai Harapan semakin hari semakin sulit pasca kerusuhan tersebut, sebab ikan hasil tangkapan nelayan asal Desa Pantai Harapan diboikot penduduk di desa-desa sekitar.

“ekonomi kami tersendat bahkan lumpuh. Kesulitan ini sudah disampaikan kepada pemerintah daerah. Semoga ada respon yang baik untuk kami. Sampai saat ini masyarakat kami makan ubi pa. Tolong bantu kami beras dan air bersih pa,” ujar Kades Sangaji.

Kepala Desa Pantai Harapan itu menyesalkan kejadian penganiayaan terhadap dua warga Desa Wulandoni pada hari Sabtu 16 agustus 2014 serta penyerangan berbuntut tewasnya seorang warga desa Wulandoni pada hari minggu 17 agustus 2014. Dikatakan, pemerintah desa sudah duduk dan sepakati perdamaian dilakukan secepat mungkin.

“kami sesalkan kejadian tanggal 16 dan 17 agustus 2014. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa tetapi kembali kita introspeksi diri atas kelemahan dan kekurangan. Kami harap pemerintah kabupaten segera membangun koordinasi untuk bisa damai dengan penduduk sebelah,” ujar Kades Sangaji.

Asistes I, Setda Lembata, Niko Paji Liarian dalam kesempatan itu mengatakan, dirinya segera melaporkan kondisi terakhir di Desa Pantai Harapan itu kepada Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur untuk urusan bantuan. Namun Asisten I menegaskan, keadaan kedua desa akan aman jika telah disepakati persehatian tapal batas antar kedua Desa.

“pemerintah Kabupaten sifatnya memfasilitasi namun diharapkan kedua kelompok warga ini bersehati untuk menyelesaikan sendiri persoalannya dengan mengedepankan musyawarah saling menguntungkan,” ujar Asisten I, Liarian. (Hosea).

“Awek Smei” Cara Masyarakat Adat Udak-Lewukak Berdamai Dengan Alam Pasca Kerusuhan


Lewoleba LO : Kearifan lokal dalam sengketa berdarah ternyata masih diperlukan dalam upaya memediasi perbedaan pandangan yang berujung maut. Tradisi adat, mengajak setiap individu untuk berdamai dengan hati sebelum berdamai dengan alam dan sesama. Ia mampu menjembatani perbedaan. Publik Lembatapun berharap pasca pertikaian antar warga Desa Wulandoni dan Desa Pantai harapan Minggu 17 Agustus 2014 silam, secepatnya kedua Desa tersebut menyelesaikan perbedaan, mencabut akar masalah tapal batas dan menciptakan kerukunan hidup dengan mengedapankan sikap tenggang rasa dan menghormati dalam hamonisasi sosial seperti sediakala.
Ritual “Awek Smei” merupakan ritual untuk mengumpulkan darah manusia yang tercecer di tanah, juga nyawa manusia yang melayang dengan cara dibunuh. Dalam tradisi masyarakat adat rumpun Udak-Lewukak, ritual tersebut dipercaya menenangkan arwah yang masih bergentayangan di lokasi kematian. Ritual “Awek Smei” dipercaya membawa arwah Krinus Lanang Manuk kembali ke rumahnya agar dapat menghadap sang pencipta. Kerusuhan Wulandoni, Minggu 17 agustus 2014 menewaskan Krinus Lanang Manuk, 69, warga Dusun Senaki, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni. Kerusuhan tersebut dipicu sengketa tapal batas kedua Desa.Pasca kerusuhan Wulandoni, ritual ini merupakan cara warga setempat berdamai dengan alam serta sesamanya, sebelum kemudian berdamai dengan musuh.
Tidak hanya warga 9 desa dalam rumpun budaya Udak-Lewukak yang mengikuti ritual tersebut, namun Asisten 1 Setda Lembata, Niko Paji Liarian, Kabag hukum, Piter Loba, Kaban BPMD, Daid Kopong, difasilitasi PLH Camat Wulandoni, Paul Sinakai, serta sejumlah pejabat eselon 2 setda Lembata berikut 12 anggota DPRD Lembata, menyaksikan ritual adat ini. Ritual membersihkan kampung dari bala bencana kematian serupa agar tidak terulang lagi dikemudian hari, mengawali proses damai antar dua Desa berseteru.
Pelaksana Harian Camat Wulandoni, Paulus Sinakai, menjelaskan, pelaksanaan ritual adat sesuai tradisi budaya Udak-Lewukak ini merupakan rangkaian proses menuju pembicaraan damai antar Desa Wulandoni dan Pantai Harapan. Kedua Desa berseteru kini melakukan ritual perdamaian di masing-masing Desanya, sebelum kedua Desa tersebut berdamai dalam sebuah pertemuan.“saya sudah sampaikan kepada kedua Desa yang berseteru untuk mempertimbangkan kearifan budaya lokal dalam proses perdamaian antar kedua Desa, pasca kerusuhan Minggu 17 Agustus 2014. Korban kerusuhan yang berasal dari rumpun adat Udak-Lewukak telah melaksanakan ritualnya, sementara warga Desa Pantai Harapan yang merupakan rumpun budaya Lebala sedang mempersiapkan ritual serupa,” ujar PLH Camat Wulandoni, Sinakai. Rupanya sang Camat masih percaya, hukum adat lebih mempan, dalam mengupayakan perdamaian.“kedua rumpun budaya ini, dalam kesehariannya saling bergantung. Wilayah pesisir, Desa Pantai Harapan dam desa pesisir lainnya yang berprofesi nelayan, membutuhkan bahan pangan seperti ubi, pisang, jagung dan bahan pangan lain dari Desa-desa di pedalaman, yakni dusun Balaj, Bakaor, Senaki, Lewukak dan udak. Mereka selalu bertemu di Pasar barter Wulandoni. Bertukar pangan tanpa uang, sehingga mereka sebenarnya rindu suasana itu,” ujar PLH Camat, Sinakai.
Ritual “Awek Smei”
Rabu (10/9/2014). Matahari belum menampakan diri. Hanya cahaya pagi lembut menyinari Desa Wulandoni. Suasana tenang dan damai pagi ini berbanding terbalik dengan suasana di tempat itu, minggu 17 agustus 2014. Empat buah mobil truk penumpang dijejali penumpang. Jalanan menurun dan dipenuhi bebatuan dan jalan tanah di jalur tengah, menyebabkan seluruh badan truk-truk penumpang itu dipenuhi debu. Hening dan syahdu bergelayut di dalam truk penumpang tersebut.
Iring-iringan truk penumpang itu berbelok dari arah Dusun Snaki, Desa Belobao lalu mendekati kantor Pospol Wulandoni, lokasi jasad Krinus Lanang Manuk terbaring bersimbah darah dalam peristiwa penyerangan warga Desa Pantai Harapan kepada warga Desa Wulandoni, Minggu 17 agustus 2014. Iringan truk penumpang itu memuat para kepala Desa serta tokoh masyarakat dan adat dari Desa Paubokol, Bakalerek, Uruor, Udak, Belobao, Dusun Senaki, Dusun Balaj dan Bakaor.
Saat berhenti, ratusan penumpang terdiri dari laki-laki, turun dari dalam truk tersebut. Fransiskus Dae, Putra kedua almahrum Krinus Lanang, turun dari truk penumpang itu. Bibirnya bergetarmenahan haru saat mendekati lokasi tempat jasad almahrum ayahnya terbaring bersimbah darah, ditebas dan diseret warga Desa Pantai Harapan dan di buang di depan Pospol Wulandoni
Putra kedua almahrum Krinus Lanang itu berjalan gontai, entah pikiran apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya, namun air mata terus mengalir dari kedua kelopak matanya. “saya dan mama saat kejadian itu tidak pernah berpikir kalau dalam kerusuhan tanggal 17 agustus 2014, sore itu, bapa ikut terbunuh. Kami hanya tahu pukul 03.00 subuh saat bapa dibawa beramai-ramai dari RSUD Lewoleba, dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Saya pasrah saja dengan proses hukum atau apapun yang dilakukan polisi dan pemerintah terhadap masalah tapal batas di Wulandoni. Saya sangat menyesal kenapa kejadian itu bisa terjadi, sebab saat pergi meninggalkan kami, bapa tidak meninggalkan satu sen pun untuk kebutuhan mama dan kami. Siapa yang bisa jamin kehidupan mama selanjutnya,” ujar Fransiskus Dae
Terkait masalah tapal batas antara Desa Wulandoni dan Pantai Harapan, putra kedua almahrum Krinus Lanang hanya berujar singkat, “ saya tidak tahu bagaimana selanjutnya, saya serahkan kepada pemerintah saja. Saya punya bapa sudah meninggal tetapi saya tidak akan bereaksi atas kematian itu. Bapa Polisi mereka mau tangkap pembunuh Bapa saya atau tidak, saya tidak mau tahu lagi, saya hanya pasrah saja,” ujar Fransiskus Dae dengan suara terbata-bata. Air matanya terus menetes. Pandangan matanya tak bergeming dari titik saat ayah tercintanya terbujur karena dibunuh
Sejurus kemudian, Stefanus Wuri, dukun asal Desa Paubokol tampak berdiri dan mengumpulkan sejumlah peralatan ritual, seperti tiga ekor ayam jantan merah, seekor babi berukuran sedang, kapas, kain putih, baju dan sarung. Satu per satu kapas yang tergulung kecil-kecil ditiup kemudian diletakan diatas batu kecil di depan kantor Pos Polisi Wulandoni. Kemudian, seutas kain putih dan kemeja dan sarung diletakan di tanah bekas jatuhnya Krinus Lanang, dalam kerusuhan Minggu 17 agustus 2014. Menurut sang dukun (molan), kapas inilah yang akan mengambil darah yang tertumpah, sementara kain putih dipergunakan untuk membungkus darah berikut nyawa korban pembunuhan, kameja dan sarung dipergunakan untuk memberi pakai nyawa almahrum yang dipercaya masih bergentayangan di lokasi ia terbunuh.
Setelah berkomat-kamit, sang dukun memotong leher ayam dan babi yang disediakan. Dipercaya, darah yang tumpah dari hewan tersebut, menggantikan darah korban manusia yang terlebih dahulu tertumpah. Warga adat itupun mencampur air kelapa muda dengan batang pisang hutan yang dihancurkan, dengan tujuan mendinginkan atau menetralkan bala panas yang sedang melanda. Air kelapa bercampur air dan batang pisang hutan itupun dipercik keseluruh peserta ritual guna mendinginkan keadaan dalam bahasa setempat disebut Letes Leraj.
Hewan yang telah dipotong itu langsung dimasak untuk dimakan dengan cepat. Dipercaya, saat makan bersama inilah, manusia dan makhluk lain berdamai dan segala permintaan yang telah disampaikan dalam ritual tadi telah diterima leluhur. Usai melaksanakan ritual “awek smei”, iringan truk penumpang itu kembali dari depan Pos Polisi Wulandoni menuju ke Dusun Senaki, Desa Belobao dengan membawa kapas putih yang terbungkus didalam kain putih untuk disemayamkan di rumah korban. Seluruh peserta maupun warga yang telah mengikuti ritual adat in,i dilarang kembali ke lokasi ritual pada hari itu juga karena dipercaya, arwah yang telah dibawa kembali ke rumah korban itu, akan ikut untuk kembali ke lokasi semula.
Saat iring-iringan truk penumpang itu kembali ke Dusun Senaki, matahari mulai terlihat menyembulkan bentuknya, bulat, namun suasana sejuk masih terasa. Tanah di depan Pos Polisi Wulandoni yang bersimbah darah pada 17 agustus 2014 lalu, kini kembali ditumpahi darah, namun darah yang tertumpah kali ini adalah darah ayam dan babi yang dipercaya akan membawa kedamaian bagi masyarakat adat yang melakukan. (Hosea).

Tiga Tersangka Wulandoni Didampingi Pengacara Jakarta

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA, PK -- Sejak tragedi berdarah di Wulandoni, 17 Agustus 2014 lalu hingga saat ini, penyidik Polres Lembata telah menahan empat dari enam tersangka. Para tersangka itu diduga terlibat dalam serangkaian kegiatan yang memicu perkelahian antarwarga di daerah itu. Hal ini diungkapkan Kapolres Lembata, AKBP Wresni HS Nugroho, S.T, melalui Kasat Reskrim, Abdul Rahman Aba, S.H, ketika ditemui Pos Kupang di mapolres setempat, pekan lalu. "Dalam kasus ini polisi sudah menetapkan enam tersangka.

Dari enam tersangka itu, empat sudah ditahan, yakni Musa Magun, Fajri Hafid Kia, Kristianus Tenang dan Simeon Suban. Dua tersangka lainnya, yakni Yoseph Keto dan Jamaludin Jaman, belum ditahan karena masih menjalani perawatan intensif," ujar Aba. Dikatakannya, berdasarkan identifikasi yang dilakukan penyidik, para tersangka itu terlibat dalam kasus yang berbeda. Ada yang terlibat penganiayaan, pengancaman, perusakan. Ada juga yang terlibat kasus pembakaran maupun pembunuhan.


Dalam penyidikan yang sedang dilakukan, lanjut Aba, kemungkinan bertambahnya jumlah tersangka masih ada. Sebab saat peristiwa itu terjadi, ada oknum warga dari desa-desa tetangga, juga ikut memberikan bantuan. Saat ini polisi sedang mengendus para pihak yang diduga ikut terlibat. Apakah ada oknum mahasiswa dari kota tertentu yang ikut terlibat dalam kasus itu? Aba mengatakan, hingga saat ini, polisi belum mendapatkan sinyal tentang keterlibatan mahasiswa seperti yang disebut-sebut publik selama ini.

"Kami belum mendapatkan sinyal tentang keterlibatan oknum mahasiswa itu," tandas Aba. Untuk itu, lanjut dia, polisi masih mendalami keterlibatan para oknum dalam kasus ini. Apabila ada informasi dan bukti tentang keikutsertaan oknum warga dan pihak tertentu, pihaknya segera mengambil langkah-langkah strategis untuk kepentingan hukum. Selama ini, ungkap Aba, para tersangka kooperatif menjalani pemeriksaan. Ia berharap kondisi ini terus tercipta pada hari-hari ke depan, sehingga penanganan kasus pidana tersebut berjalan lancar seperti yang diharapkan. Aba juga menyebutkan, dalam menghadapi kasus hukum tersebut, para tersangka didampingi oleh penasehat hukum.

Tiga tersangka, masing-masing Kristianus Tenang, Simeon Suban dan Yoseph Keto, didampingi Stanis Kapo, S.H. "Kalau tiga tersangka ini, penasehat hukumnya ditunjuk oleh polisi. Polisi menujuk Stanis Kapo, S.H untuk mendampingi mereka," ujar Aba dibenarkan Stanis Kapo yang hadir pada saat itu. Stanis Kapo, S.H merupakan mantan jaksa yang pernah bertugas di Kejari Lewoleba. Sementara tiga tersangka lainnya, yakni Musa Magun, Fajri Hafid Kia dan Jamaludin Jaman didampingi tim pengacara dari Jakarta. Tim pengacara tersebut, masing-masing Hasim Djo, Abubakar Mustafa dan Muhammad. "Tim pengacara dari Jakarta yang akan mendampingi tiga tersangka ini dalam menghadapi proses hukum kasus ini," ujar Aba. Pada Minggu, 17 Agustus 2014, insiden berdarah terjadi di Wulandoni. Warga dua desa, yakni Desa Pantai Harapan dan Desa Wulandoni, baku serang di depan Kantor Camat Wulandoni. Dalam peristiwa tersebut, Korinus Lanang Manuk tewas di tempat. Korban ditebas dengan parang persis di depan markas Pos Polisi Wulandoni. Setelah tewas, korban masih diseret lagi beberapa meter oleh oknum pelaku . Selain korban jiwa, ada juga beberapa warga yang menderita luka serius sehingga menjalani perawatan intensif. Dalam insiden tersebut, kantor camat rusak dihujani batu. Salah satu rumah yang ditempati seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di Kantor Camat Wulandoni pun ludes dibakar massa. Bahkan Camat Wulandoni, Drs. Yohanes Arimon bersama Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Yohanes Don Bosco Bataona, S.H juga lari meninggalkan tempat tugas. (kro)

Polisi Tetapkan Dua Tersangka Human Trafficking


Lewoleba LO:

Kepolisian Resort Lembata, NTT, Senin (15/9/2014), menetapkan dua tersangka dalam kasus human trafficking. Namun salah seorang diantaranya kini masih diburu polisi.“kita sudah tetapkan dua orang menjadi tersangka dalam kasus human trafficking, yakni Sumira ,mucikari yang bekerja sebagai ladies di PUB Mitra Maumere dan Bregi, tukang ojek yang telah menjual EC kepada Sumira untuk dipekerjakan sebagai ladies di Pub tempat kerja Sumira. Sementara kita terus mendalami penyelesaian berkas perkara human trafficking dengan memeriksa para saksi,” ujar Kasatreskrim Polres Lembata, Iptu Aba Meang, Senin (15/9/2014)
Ovin, salah seorang Mucikari, menggendong anaknya saat digelandang keluarga menuju Mapolres Lembata.
Menurut Kasatreskrim, kasus penjualan anak dibawah umur ini menjadi prioritas penyidikan Polres Lembata, sebab melibatkan EC, siswa SMA Negeri Lewoleba Kelas dua. Gadis remaja dibawah umur ini dijual Bregi dengan bayaran 200 ribu kepada Sumira. Remaja tersebut akhirnya dipekerjakan sebagai ladies pada Pub/Karaoke di Maumere yang bertugas melayani tamu minum.“kita prioritaskan sebab jaringan penjualan orang ini meresahkan,” ujar Kasatreskrim, Aba Meang.
Kasus penjualan anak dibawah umur ini terungkap setelah keluarga korban dibantu TNI serta sejumlah aktivis pro kemanusiaan di Lembata menggulung tersangka berikut jaringan penjualannya, kemudian, para tersangka berikut korbannya digiring ke Mapolres Lembata untuk diproses hukum.
Sumira, tersanga dalam kasus Human trafficking ini mengaku banyak remaja putri di dalam kota Lewoleba suka berperilaku bebas. “di Lembata ini ganyak sisiwi SMA yang menikmati pekerjaan “melayani tamu”, tetapi berpraktek di kos-kosan bahkan berpraktek di kuburan, sehingga untuk mendapatkan mereka tidak sulit. Rata-rata mereka mau jika ditawarkan “bekerja” sebagai ladies,” ujar Sumira. (PT).

Kamis, 11 September 2014

Menikmati Petualangan Alam, Budaya, dan Religi di Lembata

KOMPAS.com - Keindahan dan keunikan budaya yang tersimpan di timur Indonesia tentunya lebih banyak dari jumlah pulaunya yang tersebar bak untaian intan belum terasah. Temukan salah satunya di Lembata yang menyuguhkan beragam tujuan wisata dan atraksi budaya tiada duanya di dunia. Keindahan alam, keunikan budaya, dan penduduknya yang religius dan ramah menanti Anda.

Lembata berada di gugusan timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau ini memiliki nama lain, Lomblen dengan topografi dominan berupa wilayah pesisir pantai, perbukitan, dan gunung. Anda hanya perlu menyediakan waktu tidak lebih dari 1 jam penerbangan dari Bandara El Tari, Kupang. Bandara Wonupito di Lewoleba akan menjadi pintu masuk untuk mulai mereguk lebih banyak kemurnian alam dan pengalaman penuh kesan.

Lembata memang masih jarang disinggahi wisatawan. Namun cerita dari mulut ke mulut dan foto tentang perburuan paus tradisional di tempat ini telah mencengangkan publik dan perlahan-lahan tempat ini mulai dikenal wisatawan. Pastikan Desa Lamalera, masuk dalam agenda petualangan karena di sinilah atraksi berburu paus secara tradisional masih tetap dipertahankan.

Minggu (23/6/2013), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu bersama Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Firmansyah Rahim, dan Direktur Pengembangan Daya Tarik Wisata Azwir Malaon berkesempatan menyaksikan atraksi budaya berburu paus tradisional di Laut Lamalera. Atraksi mengagumkan ini jelas sesuai dengan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan.

Mari Elka Pangestu yang juga menjabat Ketua MP3EI koridor 5 di mana Lembata termasuk di dalamnya, mengunjungi pulau ini dengan mengajak 5 pengusaha yang bersedia berinvestasi dalam sektor pertanian, perikanan dan kelautan, serta kepariwisataan.

Mereka adalah Suryadi Sasmita, Hendra Wijaya, Agus Suherman Moeliadi Nagasaputra, dan Eddy Lenggu. Selanjutnya Menparekraf Mari Elka Pangestu akan mengupayakan mengundang lebih banyak investor ke Lembata terutama terkait pembangunan bidang perhubungan dan Permasalahan sarana transportasi memang terus diupayakan oleh pemerintah daerah setempat. Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur mengutarakan saat ini daerahnya masih bertahan dengan landasan pacu sepanjang 1.200 meter. Dengan tambahan 300 meter saja, menurut Eliaser, sudah cukup untuk meningkatkan jumlah penerbangan secara signifikan.

Tidak hanya sebagai tujuan wisata, Lembata juga berpotensi untuk menjadi tujuan investasi. Lembata kaya dengan sumber daya alam seperti perbukitan savana yang belum dimanfaatkan secara produktif, produk perikanan dan kelautan pun lebih dari cukup untuk ketahanan pangan warga pulau. Ada pula komoditi pertanian yang melimpah di kawasan ini. Untuk melihat kekayaan hasil bumi Lembata, Menparekraf Mari Elka Pangestu dan rombongan menyempatkan diri mengunjungi Pasar TPI dan Pasar Pada.

Bersama dengan para pimpinan SKPD yang dipimpin Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, Menparekraf Mari Elka Pangestu bersama para pengusaha juga mengunjungi beberapa tujuan wisata potensial di Lembata.

Salah satunya adalah Bukit Doa yang menghadap ke Selat Adonara. Tempat ini merupakan bagian dari Wolor Pass yang berlekuk indah dengan balutan rumput savana.

Di atasnya, pemerintah daerah telah menyelesaikan blueprint pembangunan patung Yesus Kristus yang akan menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah patung di Rio De Jenairo di Brasil. Saat ini Bukit Doa memiliki tanda salib raksasa yang mengukir permukaannya menghadap matahari terbenam di balik Gunung Ile Boleng, Pulau Adonara.

Sunset Point Wolor Pass yang juga dikenal sebagai Gembok Cinta tidak jauh letaknya dari Bukit Doa. Berada di atas garis pantai Waijarang. Gembok Cinta dibangun sebagai panggung alam yang menyuguhkan panorama mentari terbenam yang indah menemani keagungan Ile Boleng di Adonara.

Tepat di puncak bukit, sebuah pelataran rapih dan kokoh menjadi menara alam untuk menikmati sekeliling Wolor Pass yang mengagumkan.

Desa tradisi Lusilame memiliki kekuatan mempertahankan tradisi menutur yang mengalir dari generasi ke generasi tentang sejarah nenek moyang mereka di Lembata. Terdapat 12 rumah yang menjadi wakil bagi setiap suku yang ada di Lembata dimana setiap rumah didiami suku berbeda.

Mengelilingi hutan larangan, rumah-rumah ini menjadi salah satu pusat pertemuan para tetua adat yang duduk bersama di atas batu-batu yang ditetapkan menjadi kursi tradisi tiap kepala suku. Hingga kini, budaya bertutur tetap dipertahankan warganya.
Beberapa kilometer menembus jalan hutan yang tersohor dengan gaya off road, terdapat tanah ulayat Suku Wawin, salah satu suku dari 12 suku adat yang terdapat di Lusilame. Tanah ulayat yang disebut karun ini sepintas tak memiliki keunikan tetapi saat Anda berada di area karun maka akan terasa hawa panas karena memang tersohor sebagai dapur alam.

Beberapa lubang terlihat di dekat tumpukan daun-daun yang melayu sebagai tutup lubang yang setiap hari dijadikan 'panci' alami dimana semua bahan masakan dimasukkan ke dalamnya dan panas bumi menyelesaikan semua proses memasak hingga matang.

Demi mendukung pembangunan Lembata termasuk sektor pariwisatanya, Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur melemparkan konsep pengembangan “One Village One Product” untuk 144 desa. Hal itu selaras dengan program-program MP3EI demi mempercepat pembangunan di Lembata dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke pulau ini.

Selain itu, “Hello Lembata, Be Inspired” juga akan menjadi slogan untuk mengangkat Lembata sebagai daerah tujuan wisata yang maju dengan pengembangan wisata religi, ekowisata dan agrowisata.
DOK INDONESIA.TRAVEL Desa Lamalera, masuk dalam agenda petualangan karena di sinilah atraksi berburu paus secara tradisional masih tetap dipertahankan.

Seru, Wisata Petualangan nan Lengkap di Lembata

Sejumlah bocah laki-laki asyik bermain di badan seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang sekitar 10 meter yang berhasil ditangkap secara tradisional di kawasan kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (23/5/2010).
JAKARTA, KOMPAS.com - Lembata di Nusa Tenggara Timur menyimpan eksotisme yang siap disingkap para wisatawan. Bulan depan tepatnya tanggal 24-28 September 2014 adalah waktu yang tepat untuk bertualang di Lembata.

Daya tarik utamanya memang Baleo atau tradisi penangkapan ikan paus yang telah mendunia. Tetapi ada banyak obyek dan aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Lembata. Selama Festival Adventure Indonesia, wisatawan diajak akrab dengan alam.

"Peserta diajak trekking gunung, menginap di rumah penduduk. Lihat Desa Lamalera dan Baleo, lihat alam dan lautnya. Temanya adalah pariwisata bahari," tutur Adi Gerimu dari Way2East, di Jakarta, Senin (25/8/2014).

Way2East turut bekerja sama dengan Pemkab Lembata dalam mengadakan Festival Adventure Indonesia. Peserta akan diajak melihat tradisi Baleo, pesta kacang, upacara adat Ahar, sampai menikmati keindahan alam.

Peserta yang tiba di pelabuhan Lembata dan setiap masuk desa adat akan disambut dengan prosesi adat. Lalu ada pula makan malam di pinggir pantai yang akan dilakukan di Desa Jontona dengan menampilkan tarian dan kuliner khas Jontana.

Peserta juga akan menginap di homestay di setiap desa yang dikunungi dan menikmati makanan khas Lembata bersama masyarakat setempat. Peserta akan diajak menyaksikan matahari terbit di puncak Gunung Ile Lewotolok pada ketinggian 1.400 mdpl.

Seperti apa petualangan di Lembata jika Anda mengikuti festival ini? Pertama adalah Festival Ile Lewotolok yaitu wisata trekking Gunung Ile Ape. Di Desa Lamagute, ada pentas seni dan makan malam, dilanjutkan kunjungan ke kampung lama melihat kerajinan lokal.

Lalu ke Desa Amakaka sebagai titik start trekking. Tetapi sebelumnya peserta diajak upacara adat pesta kacang dan juga menginap di desa ini.

Di Desa Jontona merupakan titik finish trekking dan dilanjutkan dengan jamuan makan malam serta pentas seni budaya. Peserta juga bisa melakukan aktivitas diving dan snorkeling di Teluk Jontana dan melihat kerangka ikan paus.

Pilihan aktivitas lain adalah offroad sambil menikmati keindahan panorama di Walor Pass yang berada di Desa Bour. Ada beberapa operator tur yang menjual paket ke Lembata dalam rangka Festival Adventure Indonesia. Masing-masing tentu dengan rencana perjalanan sendiri-sendiri.

Seperti Campa Tour yang berfokus pada wisata sejarah dan budaya. Operator tur ini menawarkan paket ke Lembata seharga Rp 2.750.000 per orang dengan konsep open trip (perjalanan terbuka dengan peserta gabungan).

"Ini sudah termasuk makan, penginapan, transportasi darat, sewa kapal, dan snorkeling," tutur Fitria, founder Campa Tour. Harga tersebut belum termasuk tiket pesawat menuju Kupang ataupun sebaliknya.

Senada dengan paket yang ditawarkan Campa Tour, DAL Adventure yang lebih berfokus pada wisata petualangan, harga paket Lembata selama festival yang ditawarkan Rp 2.750.000 per orang dan juga open trip. "Ini sudah semua, tapi titiknya di Kupang," ungkap Elyudien dari DAL Adventure.

Jadi, tambah Elyudien, misalnya pelancong dari Jakarta, belum termasuk tiket pesawat Jakarta-Kupang-Jakarta. Operator tur ini biasa menyelenggarakan open trip ke Lembata dua kali setahun.

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana